Implementasi Teknologi HSPA+ berkecapatan 21 Mbps dikhawatirkan akan membuat tarif internet jadi mahal.

10 Nov 2009

Operator berlomba memberikan layanan internet cepat berbasis HSPA+ berkecapatan 21 Mbps. Namun teknologi itu justru dikhawatirkan akan membuat tarif internet jadi mahal. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengingatkan operator selular untuk menekan biaya investasi jaringan internet dan jangan sampai investasi itu membebani tarif yang dikenakan kepada pelanggan.

Jika biaya investasi jaringan internet besar, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap tarif internet yang selama ini dinilai sudah cukup murah. Saat ini operator berlomba memberikan layanan dengan menggelar jaringan internet berbasis teknologi High Speed Packet Access plus (HSPA+) dengan kecepatan 21 Mbps.

Dengan investasi yang besar belum menjamin kelangsungan layanan yang lebih baik, karena upgrade jaringan membutuhkan waktu penyesuaian. Setidaknya hingga kini, baru dua operator yaitu PT Indosat dan PT Telkomsel yang resmi mengumumkan telah meningkatkan kapasitas (upgrade) menjadi HSPA+.

Telkomsel menyatakan menggelontorkan dana sebesar Rp1,3 triliun. Namun Telkomsel dalam mengusung HSPA+ menggunakan vendor yang berbeda dengan dengan pemasok jaringan 3G sebelumnya. Dari pada Telkomsel tergesa-gesa membeli perangkat yang sangat mahal, lebih baik melakukan audit perangkat terlebih dahulu.

Dari sisi teknologi, tidak wajar bila sebuah operator mengganti secara total vendor. Sebab, kompatibilitas dan kesiapan teknisnya kerap terganggu yang berpotensi menganggu layanan bagi pelanggan. Meski kemampuan jaringan bisa ditingkatkan mencapai 21 Mbps, kebanyakan perangkat yang ada di pasar belum mendukung.

Keterbatasan itu antara lain di sisi terminal modem, jangkauan Node B, traffic control di Packet Core Network, Extended QoS profile di HLR, dan bandwidth limitation RNC ke Node B. Peningkatan jaringan ke HSPA+ tidak membutuhkan dana yang besar, hanya perlu meningkatkan kemampuan piranti lunaknya. Jangan sampai investasi yang dikeluarkan satu operator seperti Telkomsel tersebut, dibebankan kepada pengguna internet dengan tarif yang melonjak.

Sementara itu Indosat, mengaku siap meng-upgrade seluruh jaringan 3G miliknya di Jabodetabek, yang ditopang 1500 node B, dengan teknologi HSPA+. Upgrade di wilayah Jabodetabek lebih diprioritaskan, karena 70 persen dari total 500 ribu pelanggan 3,5G Indosat berdomisili di area tersebut. Lalu Bagaimana dengan daerah-daerah yang masih pakai 2G (GPRS, EGDE) akankah dilupakan? ( inilah.com)

Operator-operator di tanah air sangat mudah dipengaruhi oleh para vendor-vendor telco dari luar dalam hal implementasi teknologi. Teknologi yang satu belum tuntas, sudah disodorkan lagi teknologi baru, sehingga kita tidak pernah tahu sampai dimana kehandalan dari teknologi tersebut. Sebentar lagi juga akan muncul teknologi Long Term Evolution (LTE).

Operator di Indonesia memang jago Perang Teknologi, Iklan, dan Promosi, yang dirugikan pelanggan. Demi menjaga gengsi berapapun biaya yang dikeluarkan gak masalah asal tidak ketinggalan dengan operator sebelah. Walau sebenarnya tidak efektif dan tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan.

Tak ubahnya seperti orang membeli handset di toko-toko. Kalau sudah bosan jual dan ganti merk/type yang baru. Padahal penggunaannya hanya untuk nelpon, sms dan sesekali untuk akses data karena saat ini sedang booming situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, friendster dsb tak sebanding dengan harga handset yang dikeluarkan jutaan rupiah. Haruskah operator ditanah air seperti orang membeli handset dalam implimentasi teknologi selularnya?


TAGS


-

Author

Follow Me