Teknologi HSPA+, EVDO dan Gengsi Sang Operator Selular

5 Nov 2009

Bulan oktober dan november 2009 ini operator ramai-ramai melakukan upgrade teknologi jaringannya baik itu operator GSM dan CDMA. Hal ini ditandai lebih dahulu oleh Indosat yang mengokohkan posisinya sebagai pelopor dan inovator 3.5G Broadband tercepat di Indonesia, PT Indosat Tbk menjadi operator pertama yang berhasil mencapai kecepatan download data hingga 21 Mbps serta kecepatan upload data hingga 5.8 Mbps untuk layanan 3.5G Broadbandnya, setelah berhasil melakukan ujicoba yang dilakukan pada pertengahan Oktober 2009 yang lalu.
Setalah itu disusul oleh Telkomsel yang meluncurkan Next Generation Flash, yang merupakan proyek peningkatan teknologi jaringan Telkomsel dari sebelumnya HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) 7,2 Mbps ke teknologi HSPA+ (High Speed Packet Access +), di mana teknologi wireless broadband ini mampu menghadirkan kecepatan akses data hingga 21 Mbps.

Seperti tak mau kalah dengan operator GSM, Smart Telecom yang berbasis teknologi CDMA pun mengupgrate jaringannya. Smart Telecom akan menggelar uji coba komersil jaringan pita lebar seluler berbasis teknologi lanjutan CDMA, EVDO Rev B, selama dua-tiga bulan mulai 10 Desember 2009 mendatang di pulau Dewata, Bali. Katanya Trial jaringan Rev B ini menjadikan Indonesia sebagai negara keempat di dunia dan pertama di Asia Pasifik yang melakukan uji coba komersil. Di dunia sudah ada tiga yang trial Rev B, yakni salah satu negara di Amerika latin, Jepang, dan kemudian China.

Saya setuju dengan pendapat ibu Ventura Elisawati yang diberitakan oleh detikinet, “Useless alias mubazir” ngapain juga buru-buru pakai teknologi HSPA+ lah teknologi 3G/HSDPA saja baru dinikmati oleh sebagian orang. Akan lebih baik dana yang begitu besar tersebut digunakan untuk mengupgrade seluruh BTS yang ada menjadi BTS Nobe B (3G/HSDPA). Setelah itu baru dilakukan upgrade baik itu ke HSPA+, LTE dan sebagainya.

Tengoklah Indosat sampai saat ini pun tak pernah lagi memperluas jaringan 3G/HSDPA-nya, terkesan jalan ditempat. Sekarang tiba-tiba sudah mengimplimentasikan teknologi HSPA+. Harusnya yang dilakukan itu lebih baik concern dulu terhadap perluasan jaringan 3G/HSDPA, karena masih sangat banyak daerah-daerah yang belum tersentuh oleh teknologi 3G/HSDPA. Begitu juga dengan Telkomsel, dan Smart Telecom.

Smart Telecom meluncurkan teknologi EVDO Rev B tentunya bukan karena gengsi semata, tapi tentunya juga tidak mau kalah dengan Telkomflexi. Gosip-gosipnya Telkom pun juga akan segera meluncurkan teknologi EVDO-nya. Kapan waktunya kita tunggu saja.

Dan menurut pendapat atau pengamatan saya pribadi, jika kita bandingkan luas jangkauan jaringan 3G/HSDPA operator Telkomsel jauh lebih banyak, operator lain relatif sedikit, bahkan boleh dikatakan sangat minim sekali.

Saya melihat operator-operator di tanah air sangat mudah dipengaruhi oleh para vendor-vendor telco dari luar dalam hal implementasi teknologi. Teknologi yang satu belum tuntas, sudah disodorkan lagi teknologi baru, sehingga kita tidak pernah tahu sampai dimana kehandalan dari teknologi tersebut. Sebentar lagi juga akan muncul teknologi Long Term Evolution (LTE), seperti di beritakan oleh detikinet, Nokia Siemens Networks (NSN) telah siap komersialisasikan teknologi LTE .

Operator di Indonesia memang jago Perang Teknologi, Iklan, dan Promosi, yang dirugikan pelanggan. Demi menjaga gengsi berapapun biaya yang dikeluarkan gak masalah asal tidak ketinggalan dengan operator sebelah. Walau sebenarnya tidak efektif dan tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan.

Tak ubahnya seperti orang membeli handset di toko-toko. Kalau sudah bosan jual dan ganti merk/type yang baru. Padahal penggunaannya hanya untuk nelpon, sms dan sesekali untuk akses data karena saat ini sedang booming situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, friendster dsb tak sebanding dengan harga handset yang dikeluarkan jutaan rupiah. Haruskah operator ditanah air seperti orang membeli handset dalam implimentasi teknologi selularnya?


TAGS


-

Author

Follow Me